BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dunia keilmuan modern mengalami
perkembangan dengan munculnya cabang-cabang keilmuan modern. Perkembangan mana
terjadi karena berkat penerapan metode empiris yang makin cermat serta
pemakaian alat-alat keilmuan yang lebih lengkap. Bahkan, perkembangan tersebut
disebabkan pula oleh adanya arus komunikasi antarilmuawan yang senantiasa
meningkat. Hal mana, lebih menonjol pada tahun 1700-an. Setalah memasuki usia
dewasa, cabang-cabang ilmu tersebut memisahkan diri dari filsafat, sebagaimana
yang terjadi dengan Fisika. Pemisahan tersebut pertama-tama dilakukan oleh
biologi, pada awal abad kesembilan belas (abad XIX), dan kemudian psikologi,
yang kemudian di susul lagi oleg sosiologi, antropologi, ilmu ekonomi, dan
politik. Ciri perkembangan dunia keilmuan modern tersebut ditentukan oleh
tokoh-tokoh berikut.
Termasuk Auguste Comte yang makin
memantapkan iklim pertentang (konfik dan kontroversi) di dalam alam keilmuan
modern. Comte mengkonstatasi adanya kecenderungan keilmuan yang makin mengarah
dari spektrum keabstrakan, misalnya, matematika yang kian berkembang menunju
tahap positif dalam ilmu kemasyarakatan yang utuh dan sempurna (Sosiologi).
Tahapan perkembangan ilmu dimaksud sesuai urutan pemunculannya di dunia.
“Positivisme” dalam keilmuan, terletak pada pernyataan bahwa penjelasan ilmiah
(eksplanasi) merupakan unsur dominan dalam setiap bidang pengalaman manusia.
Tahapan perkembangan ilmu tersebut disebut hukum perkembangan.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa
teori positivisme Auguste Comte ?
2.
Apa
sejarah munculnya teori potivisme Auguste Comte ?
3.
Apa
tahapan perkembangan ilmu menurut teori Auguste Comte ?
1.3
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui teori positivme Auguste Comte.
2.
Untuk
mengetahui sejarah munculnya teori Auguste Comte.
3.
Untuk
Mengetahui tahapan perkembangan ilmu menurut teori Auguste Comte.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TEORI POSITIVISME
Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa
filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat
dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif
bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau
terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk
berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara
terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam ‘pencapaian
kebenaran’-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi.
Segala hal diluar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme.
Dalam
The Positive Philosophy, tujuan utama Comte adalah menelaah sejarah
perkembangan ilmu serta menciptakan teori tentang tiga tahap perkembangan
masyarakat. Ia membagi perkembangan masyarakat ilmiah menjadi tiga: tahap
teologis, tahap metafisik dan tahap ‘ilmiah’ atau positif. Dalam penafsirannya,
penemuan ajaran Bacon, konsep Descrates dan pandangan Galileo ialah salah satu
bentuk semangat perkembangan masyarakat positif dalam melawan sistem skolastik.
Untuk itu Comte mengajukan sebuah cabang ilmu yang, menurut dia, seharusnya
memiliki keteraturan yang sama seperti ilmu alam, ia menyebutnya fisika sosial
(Social Physics).
Dengan
tujuan menelaah sifat manusia secara utuh, dalam karyanya Comte lebih banyak
mengulas Matematika, Astronomi, Statistik, Geometri, Fisika, Kimia. Konon,
menurut Comte, hal itu dimaksudkan untuk mencari prasyarat bagi tahap-tahap
menuju masyarakat positif. Di sini Comte cukup “sukses”. Kita sekarang telah
dibingungkan oleh ajaran Comte yang sesat. Bagi Comte, masyarakat positif
dikatakan dapat berhasil secara ilmiah ketika para ilmuwan telah meninggalkan
sesuatu yang a priori. Metode yang paling tepat, menurut Comte, ialah pencarian
hukum-hukum ilmu sosial melalui eksperimen. Baginya hanya metode eksperimenlah
yang dapat mendekatkan kita pada objek observasional.
Syarat
kedua, menurut Comte, dalam menuju masyarakat positif adalah dengan
menggantikan pendidikan teologi, metafisika dan sastra dengan pendidikan
filsafat positif. Comte mengartikan pendidikan positif sebagai ajaran yang
mendidik masyarakat agar persepsinya dapat sesuai dengan objek faktual—dengan
kata lain gagasan-gagasan abstrak serta fiksi seharusnya ditiadakan. Dengan
demikian ajaran-ajaran teologis, metafisik dan sastra merupakan ajaran yang
tidak sesuai dengan objek faktual. Jadi keberadaan mereka perlu digantikan
dengan ilmu-ilmu alamiah, atau dengan kata lain hal-hal yang bukan fakta
non-metafisis tidak bermakna apa-apa. Sekali lagi, di sini Comte mengalami
kesuksesan. Dan sekarang sistem pendidikan kita melaksanakan dengan konsisten
usulan ajaib dari Auguste Comte.
Ketiga,
bagi Comte, masyarakat ilmiah dalam menelaah ilmu sedapat mungkin harus mampu
mengombinasikan beberapa sudut pandang cabang ilmu. Baginya, kombinasi dalam
berperspektif sangatlah penting. Ia mencontohkan bahwa kimia seharusnya
dipadukan dengan fisiologi—seperti kebodohan kita dalam mengubah manusia
menjadi sekedar ilmu statistik atau melihat trend-trend saat ini munculnya
kajian ekonomi perilaku, ekonomi fisika dsb. Kesalahan Comte di sini sangat
fatal. Ia tidak menyadari bahwa setiap cabang ilmu itu terkait cara berfikir.
Setiap disiplin ilmu memiliki logika formalnya sendiri-sendiri. Ada perbedaan
antara yang ada dalam pikiran dengan kenyataan luar.
Terakhir,
masih menurut Comte, untuk mengatasi krisis masyarakat, hanya pandangan
filsafat positivisme-lah yang mampu mengatasi krisis sosial. Dengan filsafat
positif anarkisme intelektual, yang biasanya melewati jalan rumit untuk
diperdebatkan dalam mencari kebenaran, harus dilenyapkan. Pandangan ini jelas-jelas
memberi jalan panjang bagi kematian karya-karya klasik. Bagi Comte, ide-ide
masa lalu yang mengarah pada anarkis adalah musuh keteraturan masyarakat.
Anggapan tersebut jelas keliru. Musuh keteraturan bukanlah anarkisme
intelektual tetapi imoralitas perilaku.
Permasalahan
Epistemologi Positivisme
Kesalahan
Comte yang paling mendasar adalah memperlakukan setiap fenomena seperti hukum
ilmu alam—yaitu memiliki sifat yang tak berubah serta beroperasi melalui
sebab-sebab konstan. Dia menganalogikan setiap fenomena harus mengikuti jalan
yang sama bagi penemuan teori ilmu alam, khususnya ilmu fisika. Ini kebodohan
tingkat tinggi. Comte mengatakan:
Tujuan
utama ilmuwan yang berpandangan positivis ialah mencari keteraturan dari sebuah
fenomena. Senjata pamungkasnya: statistik. Alasannya, hanya statistiklah yang
dapat menguji fenomena sosial layaknya pengujian ilmu alam. Bagi kaum
positivis, sebuah teori yang tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi oleh
pengalaman empiris—yang biasanya melalui data statistik—tidak akan dapat
dianggap sahih. Bahkan sebuah pernyataan tanpa dukungan analisa statistik tidak
bisa disebut “ilmiah”.
Dapat
dipahami tentang penekanan penggunaan statistik dalam ilmu sosial disebabkan
oleh kesilauan ahli ilmu sosial terhadap prosedur induktif yang digunakan dalam
ilmu alam. Dengan prosedur induktif, para ahli ilmu sosial berharap akan
menemukan hukum-hukum sosial seperti layaknya hukum fisika; sehingga penggunaan
prosedur yang kaku, dengan berbagai varian metodologi kuantitatifnya, telah berhasil
membuat sebagian besar akademisi kita sudah merasa “paling ilmiah”.
Doktrin
tersebut, tidak dapat dipungkiri, menyiratkan pandangan yang kacau. Statistik
tidak menggambarkan keteraturan. Dia hanya sebuah kumpulan kejadian-kejadian
yang beragam, yang kemudian direduksikan menjadi angka-angka. Dengan demikian,
kejadian-kejadian tersebut bukanlah sebuah variabel yang dapat dipastikan akan
mempengaruhi kejadian di masa depan. Fenomena yang telah direduksi ke dalam
angka statistik pastilah fenomena masa lalu. Dia merupakan sejarah masa lalu;
sehingga sangat musykil untuk membangun teori dari data statistik.
Sekarang
ini ilmu sosial seolah-olah telah menjadi cabang dari ilmu matematika ataupun
statistik. Kita hampir tidak pernah diberikan telaah tentang problem
epistemologi. Dalam hal prosedur penelitian, hampir semua kurikulum perguruan
tinggi telah mengajarkan filsafat ilmu—bukannya epistemologi ilmu. Sebagai
akibatnya, telah menjadi keyakinan umum bahwa tanpa prosedur metodologis,
sebuah temuan yang ‘hanya’ berdasar reflektif tidak akan pernah dianggap sahih.
Dampak
lebih jauh dari pandangan tersebut ialah matinya sensitifitas serta kemampuan
refleksi filosofis para ahli ilmu sosial. Mahasiswa dan calon sarjana ilmu
sosial, atau secara umum bidang manusia, telah benar-benar menjadi positif.
Mereka hampir-hampir tidak memiliki kemampuan analisis logis yang mumpuni
terhadap problem sosial. Sarjana-sarjana kita telah menjadi robot-robot
akademik yang mudah untuk ditakut-takuti oleh wajah seram metodologi ilmu.
Entah
berapa banyak lagi buku-buku metodologi penelitian sosial yang sekarang
terserak di toko-toko buku mengasumsikan hal yang sama. Asumsi filosofis yang
sejak zaman Locke, Hume serta Berkley hingga memuncak menjadi filsafat
Positivis Auguste Comte, menganggap akal manusia hanyalah ‘tabula rasa’, yang
hanya tunduk pada rangsangan inderawi. Mereka tidak mempercayai bahwa manusia
memiliki benak yang aktif. Anehnya, determinisme filosofis yang semakin
berlarut-larut saat ini tidak pernah dipertanyakan ataupun diresahkan oleh
kalangan akademis kita.
Dengan
demikian apabila ditelusuri secara logis, determinisme filosofis akan mengarah
ke empirisme, dan apabila ditambah dengan prasyarat perlunya verikasi dan
falsifikasi dia akan menjelma menjadi keyakinan positivis. Dengan kata lain,
positivisme merupakan bentuk ekstrim empirisme serta bagian besar dari
pandangan determinis. Determinisme adalah kakek positivisme. Begitu juga
empirisme; dia anak determinisme, serta bapak dari positivisme.
Artinya,
ketiga pandangan tersebut adalah keluarga besar yang menyamakan manusia seperti
batu. Bagi determinisme, manusia adalah hasil endapan serta bentukan dari
budaya, sejarah ataupun pengaruh perubahan iklim, seperti bebatuan yang berasal
dari sedimen yang tererosi oleh iklim di luarnya (dalam derajat tertentu
pandangan ini memang dapat diterima). Sementara, para empiris tidak cukup yakin
bahwa yang dihadapi adalah batu, maka mereka belum puas apabila belum
“meng-indera-I” sang batu. Positivisme jauh ingin lebih meyakinkan, dengan
membawa sang batu ke laboratorium untuk mendapatkan pengujian hingga
benar-benar dibuktikan bahwa yang ditelitinya adalah batu yang lapuk karena
tererosi oleh perubahan iklim.
Satu
hal yang dilupakan bagi kaum determinist empirist positivistic adalah bahwa
manusia sesungguhnya mampu belajar. Mereka bukan sekumpulan bebatuan,
atom-atom, molekul-molekul, serta agregat-agregat angka yang dengan sederhana
dapat dirumuskan menjadi teori melalui kalimat; jika Y, maka X. Tapi
sebaliknya, manusia adalah makhluk yang bertindak, berpikir, menilai dan
memilih. Kehendak bebasnya merupakan sarana untuk mengatasi
keterbatasan-keterbatasan hidup yang telah menjadi kodrat kehidupan. Manusia
akan dapat belajar baik dari pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain
untuk mencapai tujuan-tujuan bagi kepuasan serta eksistensinya. Singkatnya
manusia bukanlah materi fisikal yang tak bertindak, sekali lagi, dia adalah
makhluk yang bertindak.
Jadi,
jika mayoritas kalangan akademik sekarang masih berkutat melalui asumsi-asumsi
positivistik yang keliru, maka tidak ada cara lain kecuali mengkaji ulang
asumsi-asumsi tersebut. permasalahan tentang apakah suatu bidang ilmu bisa
dikatakan ilmiah atau tidak ilmiah bukanlah terletak pada penggunaan model
matematis dan analisis statistik yang canggih maupun yang tidak canggih. Tapi
pada kesesuaian asumsi-asumsi dalam epistemologisnya dalam melihat objek
material ilmu tersebut—yang tentunya dalam ilmu-ilmu sosial berbeda jauh dengan
asumsi epistemologis ilmu alam.
Tiga
hal yang dapat menjadi ciri pengetahuan seperti apa yang sedang Comte bangun,
yaitu:
1. Membenarkan
dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan,
2.
Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu
menurut hukum yang menguasai mereka, dan
3. Memprediksikan
fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-hukum itu dan mengambil
tindakan yang dirasa bermanfaat.
Keyakinan
dalam pengembangan yang dinamakannya positivisme semakin besar volumenya,
positivisme sendiri adalah faham filsafat, yang cenderung untuk membatasi
pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai
metoda ilmu pengetahuan. Disini Comte berusaha pengembangan kehidupan manusia
dengan menciptakan sejarah baru, merubah pemikiran-pemikiran yang sudah
membudaya, tumbuh dan berkembang pada masa sebelum Comte hadir. Comte mencoba
dengan keahlian berpikirnya untuk mendekonstruksi pemikiran yang sifatnya
abstrak (teologis) maupun pemikiran yang pada penjalasan-penjelasannya
spekulatif (metafisika).
Comte
bukan hanya melakukan penelitian-penelitian atas penjelasan-penjelasan yang
perlu dirombak karena tidak sesuai dengan kaidah keilmiahan Comte tetapi
layaknya filsuf lainnya, Comte selalu melakukan kontemplasi juga guna
mendapatkan argumentasi-argumentasi yang menurutnya ilmiah. Dan, dari sini Comte
mulai mengeluarkan agitasinya tentang ilmu pengetahuan positiv pada saat
berdiskusi dengan kaum intelektual lainnya sekaligus
Uji
coba argumentasi atas mazhab yang sedang dikumandangkannya dengan gencar.
Positivisme. Comte sendiri menciptakan kaidah ilmu pengetahuan baru ini
bersandarkan pada teori-teori yang dikembangkan oleh Condorcet, De Bonald,
Rousseau dan Plato, Comte memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ilmu
pengetahuan yang lebih dulu timbul. Pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya bukan
hanya berguna, tetapi merupakan suatu keharusan untuk diterima karena ilmu
pengetahuan kekinian selalu bertumpu pada ilmu pengetahuan sebelumnya dalam
sistem klasifikasinya.
Asumsi-asumsi
ilmu pengetahuan positiv itu sendiri, antara lain : Pertama, ilmu pengetahuan
harus bersifat obyektif (bebas nilai dan netral) seorang ilmuwan tidak boleh
dipengaruhi oleh emosionalitasnya dalam melakukan observasi terhadap obyek yang
sedang diteliti. Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang
berulang kali. Ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti tentang fenomena atau
kejadian alam dari mutualisma simbiosis dan antar relasinya dengan fenomena
yang lain.
Bentangan
aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai
“hukum tiga tahap” atau dikenal juga dengan “hukum tiga stadia”. Hukum tiga
tahap ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa
dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte.
Versi
Comte tentang perkembangan manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan
teologis dimana studi kasusnya pada masyarakat primitif yang masih hidupnya
menjadi obyek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai
(pengelola) alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan
animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu
beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda
pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap
aktivitasnya dikeseharian. Contoh yang lebih konkritnya, yaitu dewa Thor saat
membenturkan godamnyalah yang membuat guntur terlihat atau dewi Sri adalah dewi
kesuburan yang menetap ditiap sawah. Beralih pada pemikiran selanjutnya, yaitu
tahap metafisika atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte karena
tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya.
Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan
gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa
empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir !”, “penyakit AIDS adalah
penyakit kutukan!”, dan lain sebagainya, merupakan contoh dari metafisika yang
masih ditemukan setiap hari. Tahap positiv, adalah tahapan yang terakhir dari
pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan
oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan
dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang
instrumental, contohnya, adalah bilamana kita memperhatikan kuburan manusia
yang sudah mati pada malam hari selalu mengeluarkan asap (kabut), dan ini
karena adanya perpaduan antara hawa dingin malam hari dengan nitrogen dari
kandungan tanah dan serangga yang melakukan aktivitas kimiawi menguraikan
sulfur pada tulang belulang manusia, akhirnya menghasilkan panas lalu
mengeluarkan asap.
Comte
jelaslah dapat terlihat progresivitasnya dalam memperjuangkan optimisme dari
pergolakan realitas sosial pada masanya, dengan ilmu sosial yang sistematis dan
analitis. Comte dikelanjutan sistematisasi dari observasi dan analisanya, Comte
menjadikan ilmu pengetahuan yang dikajinya ini terklasifikasi atas dua bagian,
yaitu: sosial statik dan sosial dinamik.
Sosial
statik dan sosial dinamik hanya untuk memudahkan analitik saja terbagi dua,
walaupun begitu keduanya bagian yang integral karena Comte jelas sekali dengan
hukum tiga tahapnya memperlihatkan ilmu pengetahuan yang holistik. Statika
sosial menerangkan perihal nilai-nilai yang melandasi masyarakat dalam
perubahannya, selalu membutuhkan sosial order karenanya dibutuhkan nilai yang
disepakati bersama dan berdiri atas keinginan bersama, dapat dinamakan hukum
atau kemauan yang berlaku umum. Sedangkan sosial dinamik, ilmu pengetahuan yang
mempelajari mengenai perkembangan masyarakat atau gerak sejarah masyarakat
kepada arah kemajuannya.
Pemandangan
Comte rasanya dapat terlihat dalam penjabarannya mengenai ilmu pengetahuannya,
yang mengidamkan adanya tata yang jelas mengedepankan keteraturan sosial dan
kemajuan perkembangan serta pemikiran masyarakat ke arah positif. Sebagai
seorang ilmuwan Comte mengharapkan sesuatu yang ideal tetapi, dalam hal ini
Comte berbenturan dengan realitas sosial yang menginginkan perubahan sosial
secara cepat, revolusi sosial.
Comte
terpaksa memberikan stigma negatif terhadap konflik, letupan-letupan yang
mengembang melalui konflik dalam masyarakat karena akan menyebabkan tidak
tumbuhnya keteraturan sosial yang nantinya mempersulit perkembangan masyarakat.
Ketertiban harus diutamakan apabila masyarakat menginginkan kemajuan yang merata
dan bebas dari anarkisme sosial, anarkisme intelektual. Keteraturan sosial tiap
fase perkembangan sosial (sejarah manusia) harus sesuai perkembangan pemikiran
manusia dan pada tiap proses fase-fasenya (perkembangan) bersifat mutlak dan
universal, merupakan inti ajaran Comte.
Comte
memainkan peran ganda pada pementasan teater dalam hidupnya, pertama-tama Comte
yang menggebu dalam menyelematkan umat manusia dari “kebodohan”, menginginkan
adanya radikalisasi perkembangan pemikiran dengan wacana positivisme dan
progresiv dalam tata masyarakat. Kedua, Comte menolak keras bentuk anarkisme
sosial yang merusak moral dan intelektual.
Comte
adalah seorang yang radikal tetapi, bukanlah seorang yang revolusioner, Comte
seorang yang progresiv namun bukan seorang yang militansinya tinggi (walaupun,
sempat mengalami kegilaan/paranoid). Comte berjalan di tengah-tengah, mencari
jalan alternatif melalui ilmu pengetahuan yang dikembangkannya guna menyiasati
kemungkinan besar yang akan terjadi.
2.2 SEJARAH MUNCULNYA POSITIVISME
Ada beberapa sumber penting yang menjadi latar belakang
yang menentukan jalan pikiran Comte, yaitu:
1.
Revolusi perancis dengan segala aliran pikiran
yang berkembang pada masa itu.
2.
Sumber lain yang menjadi latar belakang
pemikiran Comte adalah filsafat sosial yang berkembang di Perancis pada abad
ke-18. Khususnya filsafat yang dikembangkan oleh para penganut paham encyclopedist.
3.
Sumber
lainnya adalah aliran reaksioner dari para ahli pikir Thoecratic terutama yang
bernama De Maistre dan De Bonald.
4.
Sumber
terakhir yang melatarbelakangi pemikiran Comte adalah lahirnya aliran yang
dikembangkan oleh para pemikir sosialistik, terutama yang diprakarsai oleh
Sain–Simont.
Auguste
Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian yaitu Social Statics dan Social
Dynamic. Social statics dimaksudkannya sebagai suatu study tentang hukum– hukum
aksi dan reaksi antara bagian– bagian dari suatu sistem sosial. Bagian yang
paling penting dari sosiologi menurut Auguste Comte adalah apa yang disebutnya
dengan social dynamic, yang didefinisikannya sebagai teori tentang perkembangan
dan kemajuan masyarakat. Karena social dynamic merupakan study tentang sejarah
yang akan menghilangkan filsafat yang spekulatif tentang sejarah itu sendiri.
2.3 TAHAP PERKEMBANGAN PEMIKIRAN
Comte
termasuk pemikir yang digolongkan dalam Positivisme yang memegang teguh bahwa
strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan
berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivus percaya bahwa hukum-hukum alam
yang mengendalikan manusia dan gejala sosial da[at digunakan sebagai dasar
untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan
institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu.
Comte
juga melihat bahwa masyarakat sebagai suatu keseluruhan organisk yang
kenyataannya lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung.
Dan untuk mengerti kenyataan ini harus dilakukan suatu metode penelitian
empiris, yang dapat meyakinkan kita bahwa masyarakat merupakan suatu bagian
dari alam seperti halnya gejala fisik.
Untuk
itu Comte mengajukan 3 metode penelitian empiris yang biasa juga digunakan oleh
bidang-bidang fisika dan biologi, yaitu pengamatan, dimana dalam metode ini
[eneliti mengadakan suatu pengamatan fakta dan mencatatnya dan tentunya tidak
semua fakta dicatat, hanya yang dianggap penting saja. Metode kedua yaitu
Eksperimen, metode ini bisa dilakukans ecara terlibat atau pun tidak dan metode
ini memang sulit untuk dilakukan. Metode ketiga yaitu Perbandingan, tentunya
metode ini memperbandingkan satu keadaan dengan keadaan yang lainnya.
Dengan
menggunakan metode-metode diatas Comte berusaha merumuskan perkembangan
masyarakat yang bersifat evolusioner menjadi 3 kelompok yaitu, pertama, Tahap
Teologis, merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia, dan dalam
periode ini dibagi lagi ke dalam 3 subperiode, yaitu Fetisisme, yaitu bentuk
pikiran yang dominan dalam masyarakat primitif, meliputi kepercayaan bahwa
semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri. Politheisme, muncul
adanya anggapan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang mengatur kehidupannya atau
gejala alam. Monotheisme, yaitu kepercayaan dewa mulai digantikan dengan yang
tunggal, dan puncaknya ditunjukkan adanya Khatolisisme.
Kedua,
Tahap Metafisik merupakan tahap transisi antara tahap teologis ke tahap
positif. Tahap ini ditandai oleh satu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang
asasi yang dapat ditemukan dalam akal budi. Ketiga, Tahap Positif ditandai oleh
kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir, tetapi
sekali lagi pengetahuan itu sifatnya sementara dan tidak mutlak, disini
menunjukkan bahwa semangat positivisme yang selalu terbuka secara terus menerus
terhadap data baru yang terus mengalami pembaharuan dan menunjukkan dinamika
yang tinggi. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan
manusia untuk memperoleh hukum-hukum yang bersifat uniformitas.
Comte
mengatakan bahwa disetiap tahapan tentunya akan selalu terjadi suatu konsensus
yang mengarah pada keteraturan sosial, dimana dalam konsensus itu terjadi suatu
kesepakatan pandangan dan kepercayaan bersama, dengan kata lain sutau
masyarakat dikatakan telah melampaui suatu tahap perkembangan diatas apabila
seluruh anggotanya telah melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan yang
ada, ada suatu kekuatan yang dominan yang menguasai masyarakat yang mengarahkan
masyarakat untuk melakukan konsensus demi tercapainya suatu keteraturan sosial.
Pada
tahap teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan, dalam tahap
metafisik kekuatan negara-bangsa (yang memunculkan rasa nasionalisme/
kebangsaan) menjadi suatu organisasi yang dominan.
Dalam
tahap positif muncul keteraturan sosial ditandai dengan munculnya masyarakat
industri dimana yang dipentingkan disini adalah sisi kemanusiaan. (Pada kesempatan lain Comte mengusulkan
adanya Agama Humanitas untuk menjamin terwujudnya suatu keteraturan sosial
dalam masyarakat positif ini).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
v pengertian positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham
yang dalam ‘pencapaian kebenaran’-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian
yang benar-benar terjadi. Segala hal diluar itu, sama sekali tidak dikaji dalam
positivisme.
v Ciri-ciri pengetahuan menurut Auguste Comte
Tiga
hal yang dapat menjadi ciri pengetahuan seperti apa yang sedang Comte bangun,
yaitu:
1.
Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai
kenyataan,
2.
Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu
menurut hukum yang menguasai mereka, dan
3.
Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang
berdasarkan hukum-hukum itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.
v Sejarah munculnya teori positivisme Auguste Comte
Ada beberapa sumber penting yang menjadi latar belakang yang menentukan
jalan pikiran Comte, yaitu:
1.
Revolusi perancis dengan segala aliran pikiran
yang berkembang pada masa itu.
2.
Sumber lain yang menjadi latar belakang
pemikiran Comte adalah filsafat sosial yang berkembang di Perancis pada abad
ke-18. Khususnya filsafat yang dikembangkan oleh para penganut paham encyclopedist.
3.
Sumber
lainnya adalah aliran reaksioner dari para ahli pikir Thoecratic terutama yang
bernama De Maistre dan De Bonald.
4.
Sumber
terakhir yang melatarbelakangi pemikiran Comte adalah lahirnya aliran yang
dikembangkan oleh para pemikir sosialistik, terutama yang diprakarsai oleh
Sain–Simont.
v Tahap perkembangan pemikiran
1.
Tahap
teologis : tahap ini merupakan tingkat pemikirn manusia yang beranggapan bahwa
benda didunia ini mempunnyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang
berada diatas manusia /kekuatan dewa atau gaib.
2.
Tahap
metafisis : pada tahap manusia masih percaya bahwa gejala-gejala yang ada
didunia ini disebabkan oleh kekuatan hukum alam /supranatural. Ditahap ini
merupakan penyederhanaan dari kepercayaan terhadap dewa yang mengatur gejala
yang terjadi.
3.
Tahap
positivis : tahap dimana manusia sanggup berpikir secara ilmiah, dan ditahap
inilah berkembangnya ilmu pengetahuan
DAFTAR PUSTAKA
M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar kearah Sejarah dan Teori Sosiologi.
Erlangga :Jakarta
Wibisono, Dr.Koento.1983.Arti Perkembangan
menurut Filsafat Positivisme Auguste