Rabu, 20 November 2013

Sektor Pertanian (Perekonomian Indonesia)

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Pertanian di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penunjang kehidupan berjuta-juta masyarakat Indonesia, sektor pertanian memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kukuh dan pesat. Sektor ini juga perlu menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Di masa lampau, pertanian Indonesia telah mencapai hasil yang baik dan memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan dan pengurangan kemiskinan secara drastis. Hal ini dicapai dengan memusatkan perhatian pada bahan-bahan pokok seperti beras, jagung, gula, dan kacang kedelai. Akan tetapi, dengan adanya penurunan tajam dalam hasil produktifitas panen dari hampir seluruh jenis bahan pokok, ditambah mayoritas petani yang bekerja di sawah kurang dari setengah hektar, aktifitas pertanian kehilangan potensi untuk menciptakan tambahan lapangan pekerjaan dan peningkatan penghasilan. Walapun telah ada pergeseran menuju bentuk pertanian dengan nilai tambah yang tinggi, pengaruh diversifikasi tetap terbatas hanya pada daerah dan komoditas tertentu di dalam setiap sub-sektor. Pengalaman negara tetangga menekankan pentingnya dukungan dalam proses pergeseran tersebut
2.      Rumusan Masalah
1.      Apa peran sektor pertanian?
2.      Apa kinerja dan peran sektor pertanian di Indonesia?
3.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui peran sektor pertanian
2.      Untuk mengetahui kinerja dan peran sektor pertanian dai Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A.    PERANAN SEKTOR PERTANIAN: KERANGKA ANALISIS
Mengikuti analisis klasik dari Kuznets (1964), pertanian di LDCs dapat dilihat sebagai suatu sektor ekonomi yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional, yaitu sebagai berikut:
1)      Ekspansi dari sektor-sektor ekonomi lainnya sangat tergantung pada pertumbuhan output di sektor pertanian, baik dari sisi permintaan sebagai sumber pemasokan makanan yang kontinu mengikuti pertumbuhan penduduk, maupun dari sisi penawaran sebaga sumber bahan baku bagi keperluan produksi di sektor-sektor lain seperti industri manufaktur (misalnya industry makanan dan minuman) dan perdagangan. (Kontribusi produk)
2)      Di Negara-negara agraris seperti Indonesia, pertanian berperan sebagai sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestik bagi produk-produk dari sektor-sektor ekonomi lainnya. (Kontribusi pasar)
3)      Sebagai suatu sumber modal untuk investasi di sektor-sektor ekonomi lainnya. Selain itu, menurut teori penawaran tenaga kerja (L) tak terbatas dari Arthur Lewis dan telah terbukti dalam banyak kasus, bahwa dalam proses pembangunan ekonomi terjadi transfer surplus L dari pertanian (pedesaan) ke industri dan sektor-sektor perkotaan lainnya. (Kontribusi faktor-faktor produksi)
4)      Sebagai sumber penting bagi surplus neraca perdagangan (sumber devisa) baik lewat ekspor hasil-hasil pertanian maupun dengan peningkatan produksi pertanian dalam negeri menggantikan impor (substitusi impor). (Kontribusi devisa)

1.      Kontribusi Produk
Kontribusi produk pertanian terhadap PDB dapet dilihat dari relasi antara pertumuhan dari kontribusi tersebut dalam pangsa PDB awal dari pertanian dan laju pertumbuhan relatif dari produk-produk neto pertanian dan non pertanian. Jika  produk neto pertanian,  produk neto nonpertanian, dan  total produk nasional atau PDB, maka relasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Dan
Anggap , maka:
                                                                     (5.3)
                                                                     (5.4)
Dan                                                                                                           (5.5)
Substitudi untuk PDB di bagian kanan dari persamaan (5.5) dari persamaan (5.3):
Selanjutnnya besaran setiap perubahan di dalam rasio dari produk non pertanian terhadap produk pertanian sehingga ditetukan oleh perbedaan di dalam laju pertumbuhan sektoral, jadi:
Di mana angka yang ditulis di atas setiap variable berhubungan dengan waktu:
Laju penurunan peran sektor pertanian secara relative di dalam ekonomi cenderung berasosiasi dengan kombinasi dari tiga hal berikut. Pangsa PDB awal dari sektor-sektor nonpertanian yang relative lebih tinggi dari pada pangsa PDB awal dari pertanian, laju pertumbuhan output pertanian yang relative tendah, dan laju pertumbuhan output dari sektor-sektor nonpertanian yang relative tinggi (yang membuat suatu perbedaan positif yang besar antara pangsa PDB dari nonpertanian dengan pangsa PDB dari pertanian).
Di dalam system ekonomi terbuka, besarnya kontribusi produk terhadap PDB dari sektor pertanian baik lewat pasar maupun keterkaiatan produksi dengan sektor-sektor nonpertanian,misalnya industri manufaktur, juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan sektor itu sendiri dalam menghadapi persaingan dari luar. Dari sisi pasar, kasus Indonesia menunjukkan bahwa pasar domestik didominasi oleh berbagai produk pertanian dari luar negeri, mulai dari beras, buah-buahan, sayuran, hingga daging. Dari sisi ketertarikan produksi, kasus Indonesia menunjukkan bahwa banyak industri seperti industri minyak kelapa sawit (CPO) dan industri barang-barang dari kayu dan rotan sering mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku di dalam negeri karena komoditi-komoditi tersebut diekspor dengan harga jual di pasar luar negeri jauh lebih mahal dari pada di jual ke industri-industri tersebut.
2.      Kontribusi Pasar
Negara agraris dengan proporsi populasi pertanian (petani dan keluarganya) yang besar seperti Indonesia merupakan sumber sangat penting bagi pertumbuhan pasar domestik produk-produk dari sektor-sektor nonpertanian, khususnya industri manufaktur. Pengeluaran petani untuk produk-produk industri, baik barang-barang konsumer (makanan, pakaian, rumah atau bahan-bahan bangunan, transportasi, mebel dan peralatan rumah tangga lainnya), maupun barang-barang perantara untuk kegiatan produksi (pupuk, pestisida, alat-alat pertanian) memperlihatkan satu aspek dari kontribusi pasar dari sektor pertanian terhadap pembangunan ekonomi lewat efeknnya terhadap pertumbuhan dan difersifikasi sektoral.
Tentu, peranan sektor pertanian lewat kontribusi pasarnya terhadap diversifikasi dan pertumbuhan output sektor-sektor nonpertanian seperti yang dijelaskan diatas sangat tergantung pada dua faktor penting yang dapat di anggap sebagai prasyarat. Pertama, dampak dari keterbukaan ekonomi di mana pasar domestik tidak hanya diisi oleh barang-batang buatan dalam negeri, tetapi juga barang-barang impor.di dalam system ekonomi tertutup, kebutuhan petani akan barang-barang nonmakanan mau tidak mau harus dipenuhi oleh industri di dalam negeri.
Kedua, jenis teknologi yang digunakan di sektor pertanian yang menentukan tinggi rendahnya tingkat mekanisasi atau modernisasi di sektor tersebut. Permintaan terhadap barang-barang produsen buatan industri dari kegiatan-kegiatan pertanian tradisional lebih kecil (baik dalam jumlah maupun komposisinya menurut jenis barang) di bandingkan permintaan dari sektor pertanian yang sudah modern.


3.      Kontribusi Faktor-Faktor Produksi
Ada dua faktor produksi yang dapat dialihkan dari pertanian ke sektor-sektor nonpertanian, tanpa harus mengurangi volume produksi (produktivitas) di sektor pertama. Pertama, L: di dalam teori Arthur Lewis di katakan bahwa pada saat pertanian mengalami surplus L (di mana MP dari penambahan satu L mendekati atau sama dengan nol) yang menyebabkan tingkat produktivitas dan pendapatan riil per L di sektor tersebut rendah, akan terjadi transfer L dari pertanian ke indistri. Sebagai dampaknya, kapasitas dan volume produksi di sektor industri meningkat. Kedua, modal: surplus pasar (MS) di sektor pertanian bisa menjadi salah satu sumber I di sektor-sektor lain. MS adalah surplus produksi dikali harga jual :
Di mana  adalah produk yang dijual ke pasar, yakni perbedaan antara output total di sektor pertanian  dan bagian yang dikonsumsikan oleh pertanian :
Jadi, sifat dari MS dapat digambarkan dengan melihat relasi berikut (Ghatak dan Ingerset, 1984):
Di mana  variabel-variabellain selain  yang juga berpengaruh terhadap MS. Diharapkan bahwa
Dalam kata lain, sesuai hukum penawaran, semakin tinggi harga produk pertanian, semakin besar suplai produknya. Demikian juga, semakinbanyak output yang diproduksi di sektor pertanian, semakin tinggi output yang dipasarkan, yaitu .
Di Indonesia, keterkatan investasi (I) antara sektor pertanian dengan sektor-sektor nonpertanian sangat perlu ditingkatkan terutama untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada pinjaman luar negeri (ULN). Akan tetapi, agar peran pertanian tersebut dapat direalisasikan, ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi terlebih dahulu (Griffin, 1979). Pertama, petani-petani harus menjual sebagian dari output-nya ke luar sektornya, atau dalam perkataan lain harus ada MS dari produk pertanian. Kedua, petani-petani harus merupakan penabung neto, dan untuk ini pengeluaran mereka untuk konsumsi harus lebih kecil dari pada produksi mereka. Ketiga, tabungan para petani harus lebih besar dari pada kebutuhan investasi (S>I) di sektor pertanian.
4.      Kontribusi Devisa
Kontribusi sektor pertanian terhadap peningkatan devisa adalah lewat peningkatan ekspor (X) dan atau pengurangan tingkat ketergantungan Negara tersebut terhadap impor (M) atas komoditi-komoditi pertanian. Tentu, kontribisi sektor itu terhadap X juga bisa bersifat tidak langsung, misalnya lewat peningkatan X atau pengurangan M produk-produk berbasis pertanian seperti makanan dan minuman, tekstil dan produk-produknya, barang-barang dari kulit, ban mobil, obat-obatab dan lain-lain.
Akan tetapi, peran sektor pertanian dalam peningkatan devisa bisa kontradiksi dengan perannya dalam bentuk kontribusi produk. Seperti telah dibahas sebelumnya, Kontribusi produk dari sektor pertanian terhadap pasar dan industri domestik bisa tidak besar karena sebagian besar produk pertanian di ekspor atau sebagian besar kebutuhan pasar dan industri domestik disuplai oleh produk-produk impor. Dalam kata lain, usaha peningkatan X pertanian bisa berakibat nigatif terhadap pasokan pasar dalam negeri, atau sebaliknnya, usaha memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bisa menjadi suatu faktor penghambat bagi pertumbuhan X pertanian.
Untuk menghindari trade-off sepeti ini, maka ada dua hal yang perlu dilakukan di sektor pertanian, yakni menambah kapasitas produksi di satu sisi, dan meningkatkan daya saing produk-produknya di sisi lain. Namun, bagi banya LDCs termasuk Indonesia, melakukan dua pekerjaan ini tidak mudah, terutama karena keterbatasan tenologi, SDM, dan K.
B.     KINERJA DAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DI INDONESIA
1.      Pertumbuhan Output Sejak Tahun 1970-an
Mungkin sudah merupakan suatu evolusi alamiah seiring dengan proses industrialization, di mana pangsa output agragat (PDB) dari pertanian relative menurun sedangkan dari industri manufakturdan sektor-sektor sekunder lainnya dan sektor tersier meningkat.perubahaan struktur ekonomi seperti ini juga terjadi di Indonesia. Selama periode 1990-an pangsa PDB dari pertanian (termasuk pertanian, kehutanan, dan perikanan) mengalami penurunan (harga konstan 1993) dari sekitar 17,9 % tahun 1993 menjadi 16,4% tahun 2001, sedangkan, pangsa PDB dari industri manufaktur selama kurun waktu yang sama meningkat dari 22,3% menjadi 26,0%. Penurunan kontribusi output dari pertanian terhadap pembentukan PDB ini bukan berarti bahwa volume produksi di sektor tersebut berkurang (pertumbuhan negative) selama periode tersebut, tetapi laju pertumbuhan output-nya lebih lambat dibandingkan laju pertumbuhan output di sektor-sektor lain. Hal ini bisa terjadi karena secara rata-rata, elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap komoditas pertanian lebih  kecil dari pada elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap produk-produk dari sektor-sektor lain seperti barang-barang industri. Jadi, dengan peningkatan pendapatan, laju pertumbuhan permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil dari pada terhadap barang-barang industri.
2.      Pertumbuhan dan Diversifikasi Ekspor
Komoditas pertanian Indonesia yang di ekspor cukup bervariasi mulai dari getah karet, kopi, udang, rempah-rempah, mutiara, hingga berbagai macam sayur dan buah. Selama 1993-2001, nilai X total daro komoditas-komoditas ini rata-rata pertahun hampir mencapai 3 miliar dolar AS. Di antar komoditi-komoditi tersebut, yang paling besar nilai ekspornya adalah udang dengan rata-rata sedikit di atas I miliar dolar AS selama periode yang sama. Udang merupakan komoditas perikanan terpenting dalam X hasil perikanan Indonesia. Selain itu Indonesia juga mengekspor hasil perikanan bukan bahan makanan seperti rumput laut mutiara, dan ikan hias.
3.      Kontribusi Terhadap Kesempatan Kerja
Sudah diduga bahwa di suatu Negara agraris besar seperti Indonesia, di mana ekonomi dalam negerinya masih didominasi oleh ekonomi pedasaan, sebagian besar dari jumlah angkatan/tenaga kerja (L) bekerja di pertanian. Tahun 1982 jumlah L yang diserap oleh sektor tersebut tercatat 31,6 juta orang, atau lebi dari 50% dari jumlah L yang ada pada tahun tersebut. Sebagai suatu perbandingan, pada tahun yag sama industri manufaktur hanya mengerjakan sekitar 6 juta orang lebih atau pangsanya dalam total kesempatan kerja hanya sekitar 10%. Pada tahun 2000, jumlah orang yang bekerja dimpertanian bertambah menjadi 40,7 juta orang lebih, namun masih lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pekerja di sektor tersebut pada awal tahun 1990-an, yakni sekitar 41 juta orang.
4.      Ketahanan Pangan
Di Indonesia, ketahanan pangan merupakan salah satu topik yang sangat penting, bukan saja dilihat dari nilai-nilai ekonomi dan sosial, tetapi masalah ini mengandung konsekuensi politik yang sangat besar. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan kelangsungan suatu kabinet pemerintah atau stabilitas politik di dalam negeri apabila Indonesia terancam kekurangan pangan atau kelaparan. Bahkan di banyak Negara, ketahanan pangan sering digunakan sebagai alat politik bagi seorang presiden untuk mendapatkan dukungan dari rakyatnya. Ketahanan pengan menjadi tambah penting lagi terutama karena saat ini Indonesia merupakan salah satu anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Konsep ketahanan pangan yang dianut Indonesia dapat di lihat dari Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 1996 tenang pangan, Pasal 1 Ayat 17 yang menyebutkan bahwa “Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercermin dari tersedianya panganyang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. UU ini sejalan denga definisi ketahanan pangan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tanhun 1992, yakni akses setiap RT atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat. Sementara pada Worid Food Summit tahun 1996, ketahanan pangan disebut sebagai akses setiap RT atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat dengan persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat (Pambudy, 2002a).
Konsep ketahanan pangan nasional yang tercantum pada UU No. 17 tersebut memberi penekanan pada akses setiap RT terhadap pangan yang cukup, bermutu, dan harganya terjangkau, meskipun kata-kata RT belum berarti menjamin setiap individu di dalam RT mendapat akses yang sama terhadap pangan karena di dalam RT ada relasi kuasa (Pambuby, 2002a), implikasi kebijakan dari konsep ini adalah bahwa pemerintah, di satu pihak, berkewajiban menjamin kecukupan pangan dalam arti jumlah dengan mutu yang baik serta stabilitas harga dan di pihak lain, peninhkatanpendapatan masyarakat khususnya dari golongan berpendapatan rendah.
a)      Kebutuhan Pangan Nasional
Banyak orang memperkirakan bahwa dengan laju pertumbuhan penduduk dunia yang tetap tinggi setiap tahunnya, sementara lahan yang tersedia untuk kegiatan-kegiatan pertanian semakian sempit, maka pada suatu saat dunia akan mengalami krisis pangan (kekurangan stok), seperti juga diprediksi oleh teori Malthus. Namun keterbatasan stok pangan bisa diakibatkan oleh dua hal: karena volume produksi rendah (yang disebabkan oleh faktor cuaca atau lainnya), sementara permintaan besar karena jumlah penduduk dunia bertambah terus atau akibat distribusi yang tidak merata keseluruh dunia: banyak daerah seperti Afrika mengalami krisis pangan, sementara di Eropa Barat, Amerika Utara, dan sebagian Asia mengalami kelebihan pangan.
Menurut prediksi dari FAO, untuk 30 tahun ke depan, peeningkatan produksi pangan akan lebih besar dari pada pertumbuhan pendudukan dunia. Peningkatan produksi pangan yang tinggi itu akan terjadi di DCs. Selain kecukupan pangan, kualitas makanan juga akan membaik. Menurut data dari FAO, dalam 20 tahun belakangan ini peningkatan produksi pangan di dunia rata-rata per tahun mencapai 2,1%, sedangkan laju pertumbuhan penduduk dunia hanya 1,6% per tahun. Selama periode 2003-2015 peningkatan produksi pangan diperkirakan akan menurun menjadi rata-rata 1,6% per tahun, namun masu lebih tinggi jika di bandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk dunia yang di prediksi 1,2% per tahun. Untuk periode 2015-2030 FAO memperkirakan produksi pangan akan tumbuh lebih rendah lagi yakni 1,3% per tahun, tetapi masih lebih tinggi dari pada pertumbuhan penduduk dunia sebesar 0,8% per tahun. Produksi biji-bijian dunia akan meningkat sebesar satu miliar ton selama 30 tahun ke depan, dari 1.48 miliar ton di tahun 2000 menjadi 2,84 miliar ton di tahun 2030 (Husodo, 2002).
Produk Dalam Negeri dan Ketergantungan Pada Impor
Bukan hanya di alami oleh Indonesia, tetapi memang secara umum ketergantungan LDCs terhadap M pangan semakin besar jika dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu. Menurut data dari FAO, M pangan dari LDCs tahun 1995 sekitar 160 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 270 juta ton pada tahun 2030.
Dalam hal beras, menurut pengankuan pemerintah, untuk mencukupi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa, setiap tahunnya Indonesia harus M beras lebih dari 2 juta ton. Argumen yang sering digunakan pemerintah untuk membenarkan kebijakan M-nya adalah bahwa M beras merupakan suatu kewajiban pemerintah yang tidak bisa dihindari, karena ini bukan semata-mata hanya menyangkut pemberian makanan bagi penduduk tetapi juga menyangkut stabilitas nasional (ekonomi, politik, dan social).
Namun pertanyaannya sekarang: apakah volume produksi beras per tahun tersebut mencukupi kebutuhan konsumsi beras nasional? Apabila dilihat dari sisi banyaknya beras yang dikonsumsi di dalam negeri selama periode menjelang akhir 1980-an hingga krisis ekonomi (1998), pada tahun-tahun tertentu tingkat produksi beras berada di bawah garis swasembada, yang artinya produksi beras tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, sehingga M beras meningkat. Pada tahun 1990 hingga 1991 volume produksi berada di bawah kebutuhan konsumsi beras domestik, dan tahun 1992 sampai dengan pertengahan 1993 produksi meningkat cukup tajam hingga melebihi kebutuhan pasar dan negeri. Tahun 1994 dan 1995 produk kembali merosot, dan tahun 1996 meningkat kembali sampai melebihi kebutuhan dalam negeri, walaupun menjelang akhir tahun itu produksi kembali menurun.
Faktor-Faktor Determinan
Kemampuan Indonesia meningkatkan produksi pertanian untuk swasembada dalam penyediaan pangan sangat di tentukan oleh banyak faktor, eksternal maupun internal. Satu-satunya faktor eksternal yang tidak bisa dipengaruhi oleh manusia adalah iklim; walaupun dengan kemajuan teknologi saat ini pengaruh negatif dari cuaca buruk terhadap produksi pertanian bisa diminimalisir. Dalam penelitian empiris, faktor iklim biasanya di lihat dalam bentuk danyaknya curah hujan (millimeter). Curah hujan mempengaruhi pola produksi, pola panen dan proses pertumbuhan tanaman. Sedang faktor-faktor internal, dalam arti bisa dipengaruhi oleh manusia, di antaranya yang penting adalah luas lahan, bibit, berbagai macam pupuk (seperti urea, TSP, dan KCL), pestisida, ketersediaan dan kualitas infrastruktur termasuk irigasi, jumlah dan kualitas L (SDM), K dan T. Faktor-faktor internal ini memilii tingkat krusial yang sama, dalam arti keterkaitan antar factor sifatnya komplementer; terkecuali hingga tingkat tertentu antara factor manusia (L) dan faktor T. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dalam tingkat keterkaitan yang optimal menetukan tingkat produktivitas lahan (jumlah produk per ha) maupun manusia (jumlah produk per L/petani).










BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Sektor pertanian sendiri sangat penting bagi perkembangan suatu Negara baik dari segi pekonomian, pengembangan SDM ,dll, adapun kontribusi dan kinerja sektor pertanian di Indonesia yaitu meliputi pertumbuhan output, ketahanan pangan, kesempatan kerja dan lain-lain. Selain itu Indonesia sendiri merupankan Negara agraris yang di mana mayoritas penduduk di suatu daerah-daerah berprofesi dalam bidang pertanian sehingga sektor pertanian di Indonesia tersebut lebih mudah untuk pengembangannya.
Oleh sebab itu sektor pertanian mempunya peran yang cukup penting bagi suatu perkembangan ataupun kemajuan dari suatu Negara.








DAFATAR PUSTAKA
Tambunan, Tulus T.H. (1996), Perekonomian Indonesia, Jakarta:Ghalia Indonesia.
Perkembangan Sektor Pertanian Indonesia- Universitas Jayabaya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Ekonomi Manajerial

Nama kelompok : 1.       Ahmad Zainul Arifin   ( 115100   ) 2.       Nadya El Madania       ( 115100   ) Diketahui ...