Senin, 18 November 2013

pemasaran ritel


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemilihan lokasi untuk penempatan toko atau bisnis ritel sebenarnya adalah kombinasi dari ilmu dan seni. Bahkan dengan menggunakan semua analisis, kadang ritel justru harus mengambil keputusan tentang lokasi terbaik berdasarkan pengalaman masa lalu.
Terutama jika data dan informasi yang dimiliki bertentangan dengan fakta yang ada dan apa yang harus diputuskan saat ini. Oleh karena itu, perlu untuk mengetahui terlebih dahulu masalah-masalah, apa yang seharusnya dipertimbangkan ketika menentukan daerah atau area perdagangan mana yang cocok untuk penempatan toko atau ritel.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah tipe lokasi yang memungkinkan dipilih oleh ritel?
2.      Bagaimana mengevaluasi keunggulan relative dari setiap area perdagangan yang memungkinkan untuk dipilih?
3.      Tipe lokasi perdagangan yang bagaimanakah yang memungkinkan untuk tumbuh sejalan dengan pertumbuhan toko?
4.      Mengapa ritel tetap berlkasi disuatu tempat tertentu, meskipun terdapat ritel lain yang bersedia memilih lokasi pada tempat yang berbeda?







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Lokasi Area Perdagangan
Pemilihan lokasi ritel adalah sebuah keputusan yang sangat strategis. Sekali lokasi dipilih, pemilik ritel harus menanggung semua konsekuensi dari pilihan tersebut. Sebagi contoh sebuah ritel makanan mempertimbangkan lokasi toko di area yang masih baru. Pemilik ritel memilih dua tempat, bersebrangan dengan toko lain yang menempati lokasi yang benar-benar baru dengan para pesaing toko makanan yang lain. Dalam membuat keputusan mengenai pemilihan lokasi, seharusnya pemilik ritel memikirkan dalam tiga tingkatan, yaitu daerah, area perdagangan, dan tempat yang lebih spesifik.
1.      Daerah merujuk pada suatu Negara, bagian dari suatu Negara, kota tertentu, atau metropolitan statical area (MSA).
2.      Area perdagangan adalah area geografis yang berdekatan yang memiliki mayoritas pelanggan dan penjualan sebuah toko, mungkin bagian dari sebuah kota, atau dapat meluas di luar batas-batas kota tersebut, tergantung pada tipe-tipe toko, dan intensitas dari para pelanggan potensial disekitarnya.
3.      Tempat yang lebih spesifik dan kubus.
Dalam membuat keputusan-keputusan lokasi toko, para pemilik ritel seharusnya menguji tiga tingkatan tersebut secara serempak dan terintregrasi. Dalam menguji ketiga keputusan lokasi secara berurutan, maka akan dijelaskan terlebih dahulu bagaimana:
1.      Melihat factor yang mempengaruhi daya tarik suatu area perdagangan tertentu
2.      Menguji apa yang dicari pemilik ritel dalam pemilik ritel dalam memilih tempat, seperti target penjualan yang harus dicapai, sehingga dapat dilakukan pengujian dengan menggunakan beberapa metode peramalan.
Untuk memilih perdagangan tersebut, dapat digunakan beragam data untuk menganalisis lokasi-lokasi potensial. Terdapat berbagai metode dan data yang dapat digunakan dalam menganalisis loasi-lokasi potensial bagi bisnis ritel, antara lain indeks perkembangan merek, indeks populasi, kluster prima, dan analisis toko pembanding.evaluasi mengenai kepadatan penduduk, tingkat kepadatan rumah tangga, tingkat pendidikan, ukuran rumah tangga dan anak-anak, ketertarikan gaya hidup, semua informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah lokasi perdagangan tersebut seuai dengan yang diharapkan.
B.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Suatu Wilayah Atau Area Perdagangan
Wilayah-wilayah terbaik dan area-area perdagangan adalah tempat-tempat yang dapat menghasilkan permintaan tertinggi atau penjuala untuk sebuah ritel.meskipun analisis wilayah berbeda dengan analisis area perdagangan, karena perbedaan luas areanya, namun biasanya terdapat factor-faktor yang banyak berbeda yang membuat sesuatu wilayah perdagangan itu menarik untuk dipilih.
1.      Skala ekonomi versus kanibalisasi
Pada awalnya, diharapka bahwa sebuah ritel seharusnya memilih lokasi terbaik dalam suatu area perdagangan, tetapi kebanyakan waralaba atau chains mengarah pada sebuah area dengan sebuah jaringan pertokoan. Lagi pula, skala dari promosi dan distribusi ekonomi bisa lebih mudah dengan lokasi berganda atau multiple seperti ini.
2.      Demografis dan karateristik gaya hidup
Dalam banyak kasus, area-area dimana populasi bertumbuh, lebih dinikmati dibandingkan dengan yang area-area dimana area-area yang populasinya menunjukan penurunan. Beberapa ritel, seringkali mengambil keputusan utnuk masuk dalam pusat perbelanjaan yang baru, untuk mengantisipasi terjadinya permintaan yang cukup besar di area pinggiran.
Karateristik gaya hidup dari populasi mungkin relevan pula untuk dipahami dalam menentukan lokasi ritel. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penetapan lokasi juga tergantung pada sasaran atau target pasar yang dikejar oleh ritel. Contohnya banyak mahasiswa memiliki pendapatan yang rendah. Namun, mereka mungkin saja berasal dari keluarga kaya dan mereka merupakan kosumen yang relative terdidik dan potensial untuk menciptakan permintaan pada suatu lokasi ritel tertentu.
3.      Iklim bisnis
Penting untuk mengamati tren atau kecenderungan pekerjaan konsumen pada pasar sasaran ritel karena pekerjaan tertentu identik dengan penghasilan yang tinggi dan biasanya berarti pula mempunyai daya beli yang lebih tinggi. Hal ini juga berguna untuk menentukan pula bagaimana pertumbuhan seperti itu akan berlanjut dan bagaimana hal tersebut akan memengaruhi permintaan atas barang dagangan mereka. Pertumbuhan dalam pekerjaan dan pekerjaan itu sendiri tidak cukup untuk meykinkan sebuah lingkungan ritel yang kuat di masa depan. Bila pertumbuhan tidak terdiversifikasi ke dalam sejumlah industry, area tersebut mungkin akan menjadi area yang kurang menguntungkan sebagai akibat siklus tren yang terus menerus menurun dan merugikan.
4.      Kompetisi
Tingkat kompetisi dalam sebuah area juga mempengaruhi permintaan atas barang dagangan ritel . tingkat kompetisi bisa dirinci sebagai berikut:
a.       Tingkat kompetisi yang telah mengalami kejenuhan
Sebuah area perdagangan yang jenuh (saturated trade area) menawarkan kepada konsumen sejumlah pilihan barang dan jasa yang cukup, tetapi memungkinkan ritel untuk terus berkompetisi dalam mendapatkan keuntungan. Hal ini  terjadi karena konsumen tetap tertarik pada area ini, disebabkan tersedianya banyak pilihan toko maupun barang dagangan.
b.      Tingkat kompetisi yang kurang
Strategi yang lain adalah menemukan lokasi area perdagangan yang kurang toko (uderstore trade area) artinya sebuah area yang hanya terdapat sedikit toko yang menjual suatu barang atau jasa yang spesifik untuk memnuhi kebutuhan populasi.
c.       Tingkat kompetisi yang berlebih
Area perdagangan dengan toko yang berlebihan (overstore trade area) yaitu memiliki banyak toko yang menjual barang yang spesifik dan tidak bayak bisa dibedakan oleh konsumen dalam populasi tersebut.
5.      Masalah-masalah lokasi secara global
Ritel perlu untuk mengambil keputusan pada sebuah wilayah, yaitu sebuah area perdagangan dan lokasi yang spesifik. Ritel masih perlu untuk mengamati karateristik dan tingkat persaingan maupu pola lalu lintas disekitar lokasi tersebut. Hal yang membuat keputusan lokasi global menjadi lebih sulit dan menarik secara potensial adalah bahwa mereka yang bertanggung jawab dalam mengambil keputusan ini adalah mereka yag tidak biasa dengan nuansa daripada masalah lokasi asing dibandingkan dengan masalah yang sama Negara asalnya.
C.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Daya Tarik Sebuah Lokasi
Masalah-masalah yang membuat suatu lokasi tertentu memiliki daya tarik secara spesifik, akan mengamati keuntungan aksesibilitas lokasi dan keuntungan secara lokasi sebagai pusatnya. Berikut penjelasan dari kedua masalah tersebut:
1.      Aksesibilitas
Aksesibilitas suatu lokasi adalah suatu kemudahan bagi konsumen untuk datang atau masuk dan keluar dari lokasi tersebut. Analisis ini memiliki dua tahap yaitu:
a.       Analisis makro
Mempertimbangkan area perdagangan primer, seperti area dua hingga tiga mil dari sekitar lokasi tersebut dalam kasus sebuah supermarket atau toko obat untuk menaksir aksesibilitas lokasi pada tingkat makro ritel secara bersamaan mengevaluasi beberapa factor seperti pola-ola jalan, kondisi jalan dan halangan-halangan
b.      Analisis mikro
Berkonsentrasi pada masalah-masalah sekitar lokasi, seperti visibilitas, arus lalu lintas, parkir, keramaian, dan jalan masuk maupun keluar.
2.      Keuntungan secara lokasi dalam sebuah pusat
Setelah aksesibilitas pusat telah dievaluasi, analisis harus mengevaluasi lokasi di dalamnya. Hal ini disebabkan lokasi yang lebih baik memerlukan biaya yang lebih, ritel harus mempertimbangkan kepentingan mereka. Pada intinya, konsumen ingin berbelanja dimana mereka menemukan sejumlah variasi barang dagangan yang lengkap.

D.    Memperkirakan Permintaan Untuk Sebuah Lokasi Baru
Para pemilik ritel memperkirakan permintaan untuk lokasi yang baru dengan menetapkan area perdagnganya dan kemudian memperkirakan seberapa banyak yang dikeluarkan oleh konsumen dalam area perdagangan dan factor yang dipertimbangkan ketika menetapkan.
batas-batas area perdagangan dengan menjelaskan tipe-tipe informasi dan teknik-teknik yang digunakan oleh para pemilik ritel untuk memperkirakan permintaan.
1.      Area Perdagangan
Area perdagangan adalah area geografis yang berdekatan yang memiliki mayoritas pelanggan dan penjualan dari sebuah toko. Area perdagangan dapat dibedakan ke dalam tiga zona. Area perdagangan tersebut disebut sebagai poligons, karena batas-batasnya sesuai dengan jalan-jalan dan tampilan peta lainya. Ketiga zona dalam area perdagangan tersebut adalah:
a.       Zona primer
Zona primer adalah area geografis dari mana toko atau pusat perbelanjaan tersebut mendapatkan 60 persen dari pelangganya.
b.      Zona sekunder
Zona sekunder adalah area geografis dari kepentingan sekunder dalam tingkat penjualan pelanggan, yang menghasilkan sekitar 20 persen dari penjualan sebuah toko.
c.       Zona tersier
Zona tersier termasuk para pelanggan yang kadang berbelanja di toko atau pusat perbelanjaan tersebut. Ada beberapa alasan untuk zona tersier, yaitu:
a.       Para pelanggan kekurangan fasilitas-fasilitas ritel yang memadai yang berlokasi lebih dekat dengan rumah.
b.      Tersedianya akses jalan raya strategis menuju toko atau pusat perbelanjaan tersebut sehingga para pelanggan dapat pergi kesana dengan mudah.
c.       Lokasi ritel atau pusat perbelanjaan merupakan rute yang sering di lalui para pelanggan ketika menuju ketempat kerja atau tujuan lainya.
d.      Para pelanggan tertarik pergi ke toko atau pusat perbelanjaan karena toko atau pusat perbelanjaan tersebut dekat atau ada di dalam area pariwisata.

2.      Faktor-faktor yang mengidentifikasikan area-area perdagangan
Batas-batas sebenarnya dari sebuah area perdagangan ditentukan oleh aksesibilitas toko, hambatan-hambatan aami maupun fisik, tipe area perbelanjaan, tipe toko, dan kompetisi. Cara lain dari melihat pada bagaimana tipe toko mempengaruhi ukuran dari sebuah area perdagangan adalah tipe toko ini apakah merupakan toko tujuan ataukah toko parasit. Toko tujuan adalah toko dimana barang dagangan, pemilihan, presentasi, penetapan harga, atau tampilan-tampilan unik lainya bertindak sebagai magnet untuk para pelanggan. Sedangkan toko parasit adalah toko yang tidak menciptakan lalu lintasnya sendiri dan area nyang area perdaganganya ditentukan oleh para pemilik ritel yang dominan dalam pusat perbelanjaan atau area ritel.
3.      Sumber-sumber informasi
Terdapat tiga tipe informasi diperlukan untuk menetapkan sebuah area perdagangan, yaitu:
·         Para pemilik ritel harus menentukan berapa banyak orang yang ada dalam area perdagangan tersebut dan dimana mereka tinggal. Utnuk ini, ritel menggunakan suatu teknik yang dikenal dengan menemukan konsumen (consumer spotting) berarti tujuanya untuk sebuah toko atau pusat perbelanjaan. Data spesifik untuk konsumen sebuah ritel biasanya didapat dari informasi dari kartu kredit atau cek pembelian atau dari pemrogram loyalitas konsumen.
·         Para pemilik ritel menggunakan sensus yang diadakan setiap 10 tahun untuk menjelaskan pelanggan potensialnya dalam usaha untuk menilai seberapa besar mereka akan membeli dalam area perdagangan yang diusulkan.
·         Para pemilik ritel menggunakan internet dan sumber-sumber yang diterbitkan lainya untuk menilai kompetensinya.
4.      Penandaan pelanggan
Tujuan dari teknik penandaan pelanggan adalah untuk menandai, melacak tempat pelanggan dari sebuah toko atau pusat perbelanjaan. Sensus per sepuluh tahun adalah sebuah informasi yang lengkap untuk membuatb keputusan-keputusan lokasi. Data demografis dan vendor-vendor (penjual) ada sekitar ratusan perusahaan swasta yang mengkhususkan dalam menyediakan para pemilik ritel dengan informasi yang akan membantu mereka dalam membuat keputusan lokasi toko yang lebih baik.


5.      Mengukur kompetisi
Memperkirakan permintaan untuk produk pemilik ritel adalah sebuah factor kesuksesan yang kritis, tetapi hal ini hanyalah setengah dari keseluruhan cerita, sama pentingnya juga untuk menentukan tingkat kompetisi dalam area perdagangan. Salah satu dari metode-metode-metode pengukuran kompetisi yang paling kuat adalah melalui internet. Sebagian besar situs Web mendaftar bukan hanya semua lokasi sekarang tetapi juga tempat-tempat masa depan . dalam proses pengukuran kompetisi relative untuk tempat baru yang potensial dengan menggunakan informasi.
E.     Metode Pengukuran Permintaan
Terdapat sejumlah metode analisis komplementer digunakan untuk memperkirakan permintaan untuk sebuah toko baru.
1.      Pendekatan analog
Pendekatan analog dapat juga disebut dengan pendekatan toko yang serupa. Dalam menggunakan pendekatan ini peritel harus mampu menggambarkan karateristik area perdagangan terbaik bagi toko dan menggunakan informasi tersebut dalam menemukan lokasi lain. Misalnya toko A sukses di daerah perdagangan Delta Plaza, maka pendekatan analogi digunakan untuk mengukur permintaan di area Royal Plaza yang memiliki karateristik relative sama dengan Delta Plaza di mana toko B dibuka.
Pendekatan analog dibedakan dalam tiga tahap, yaitu:
·         Area perdagangan sekarang ditentukan dengan menggunakan teknik penandaan pelanggan.
·         Berdasarkan pada intensitas pelanggan pada too, zona-zona primer, sekunder, dan tersier ditentukan.
·         Karateristik dari toko yang ada sekarang dicocokan dengan lokasi-lokasi toko baru yang potensial utnuk menentukan tempat terbaik.


2.      Analisis Regresi
Analisis regresi adalah sebuah metode umum dari pendefinisian area perdagangan ritel yang potensial untuk jaringan ritel yang lebih besar dari 20 toko. Langkah-langkah awal dalam analisis regresi adalah sama seperti langkah-langkah dalam pendekatan analog, yaitu:
·         Area perdagangan sekarang ditentukan dengan menggunakan teknik penandaan pelanggan.
·         Zona primer, sekunder, dan tersier ditentukan dengan memplot para pelanggan pada peta.
·         Mencari data.
·         Membuat persamaan regresi dengan bantuan perangkat lunak.
Dengan menggunakan paket statistic yang dibakukan, tiga langkah diikuti mengembangkan persaan, yaitu:
·         Memilih ukuran pelaksanaan yang tepat, seperti penjualan perkapita atau saham pasar.
·         Memilih sebuah set variable yang dapat berguna dalam meramalkan pelaksanaan.
·         Memecahkan persamaan regresi dan menggunakanya untuk meramalkan pelaksanaan tempat-tempat masa depan.
Garis regresi dihasilkan dari persamaan:
Penjualan = a + b1 . x1
            Dimana :
            a =  konstanta yang dihasilkan dari program regresi. A juga mendefinisikan di mana garis regresi memotong sumbu y karenanya juga dikenal dengan perpotongan sumbu y.
b1 = angka yang dihasilkan dari program regresi yang mendefinisikan hubungan antara penjualan dengan variabelnya, juga kemiringan dari garis regresi.
X1 = variable predictor (untuk populasi O hingga 3 mil).

3.      Model Grafitasi Huff
Model Huff, merupakan metode penetapan permintaan secara singkat berdasarkan pada hokum gravitasi Newton. Dibangun berdasarkan pada premis bahwa kemungkinan pelanggan yang akan berbelanja pada toko atau pusat perbelanjaan tertentu menjadi lebih besar seiring ukuran toko atau pusat perbelanjaan tersebut semakin dekat.
Sasaran dari model Huff adalah untuk menentukan bahwa seorang pelanggan yang menetap dengan dalam sebuah area tertentu akan berbelanja pada sebuah toko atau pusat perbelanjaan tertentu. Untuk memulai prosesnya perkiraan penjualan dengan menggunakan metode Huff, model umumnya ditetapkan sebagai berikut:
4.      Memilih Metode yang terbaik
Dalam setiap keputusan semakin banyak informasi yang tersedia, semakin baik hasil yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, jika sebuah kombinasi dari teknik teknik tersebut diterapkan dan kesimpulan yang sama dicapai, pemilik ritel seharusnya memiliki kepercayaan diri yang besar dalam pengambilan keputusan tersebut.
D.  Tipe-tipe Lokasi
Beberapa tipe lokasi yang tersedia bagi ritel masing-masing tipe lokasi dengan kekuatan dan kelemahanya sendiri. Memilih tipe lokasi yang khusus menyertakan evaluasi serangkaian penjualan. Pada umumnya penjualan ini melihat biaya lokasi versus nilainya bagi pelanggan. Ritel mempunyai tiga dasar lokasi untuk memilih dari pusat perbelanjaan, lokasi ibu kota atau lokasi bebas berdiri. Ritel juga mengalokasikan pada lokasi nontradisional, seperti bandara atau dalam kedai lainya.
Ritel mempunyai tiga tipe dasar lokasi yang bisa dipilih:
1.      Pusat perbelanjaan,
2.      Lokasi di kota besar atau bertempat di tengah, maupun kota kecil,
3.      Lokasi bebas (freestanding).

Bagian di bawah ini menggambarkan masing-masing tipe dan criteria yang ada dalam memilih tipe lokasi tertentu.
A.    Pusat Perbelanjaan
Pusat perbelanjaan yang besar (shopping centre) menyediakan kebutuhan belanja bagi banyak golongan konsumen. Pusat perbelanjaan biasanya berupaya mengombinasikan banyak toko tersebut berada di lokasi terpisah. Istilah pusat perbelanjaan sejak awal telah berkembang pada tahun 1950, pusat perbelanjaan biasanya terdiri dari sekelompok ritel yang diatur dengan dengan ketentuan komersil yang direncanakan, dikembangkan dan dimiliki serta dikelola sebagai property tunggal.
1.      Pusat diskon perbelanjaan kecil
Manfaat utama dari pusat perbelihan perbelanjaan kecil (strip shopping center) adalah mereka menawarkan kepada pelanggan kenyamanan lokasi dan kemudahan parker serta biaya sewa yang relative rendah untuk ritel. Kerugian besarnya adalah tidak adanya perlindungan dari cuaca karena lokasi depan toko adalah lahan parker, mereka hanya sedikit memberikan penawaran serta pilihan hiburan bagi pelanggan daripada mall. Terdapat dua tipe  strip shopping centre :
·         Pusat perbelanjaan kecil tradisonal
Merupakan pusat perbelanjaan yang dirancang utnuk memberikan kenyamanan belanja untuk kebutuhan pelangg setiap harinya yang tinggal pada lkas sekitar.
·         Puat perbelanjaan besar
Merupakan pusat perbelanjaan yang lebih didominasi oleh beberapa toko besar, termasuk toko diskon, klub-klub pergudangan. Tidak seperti pusat perbelanjaan dengan sewa rendah tradisional, pusat belanja besar sering mencakup beberapa pedagang mandiri dan hanya sejumlah kecil penyewa khusus.mereka secara khusus tertutup pada konfigurasi strip centre.





2.      Mal
Mal mempunyai beberapa keuntungan selain lokasi alternative:
Pertama, karena banyak tipe toko yang berbeda, bermacam-macam barang dagangan tersedia dalam toko tersebut dan kesempatan mereka utnuk mengombinasikan perbelanjaan dan hiburan, mal perbelanjaan menjadi lebih utama bagi perbelanja masa kini.
Kedua, dari lokasi di pusat perbelanjaan adalah berbagai penyewa dapat direncanakan. Pemilik mal perbelanjaan mngendalikan jumlah perbedan tipe ritel sehingga pelanggan dapat mempunyai sebuah pengalaman belanja yang tidak berhenti dengan bermacam-macam barang dagangan yang diseimbangkan.
Ketiga, ritel dan pelangganya tidak perlu merasa kuatir dengan longkungan eksternal mereka. Manajemen mal melakukan pemeliharaan area bersama. Penyewa mal dapat meliat ke depan besarnya level homogenitas dengan toko lainya.
3.      Pusat belanja regional
Merupakan tempat belanja yang menyediakan barang-barang umum dan jasa pelayanan yang lengkap dan bervariasi. Tujuanya adalah menarik departemen, toko diskon, toko pakaian khusus.
4.      Pusat belanja super regional
Merupakan pusat perbelanjaan yang mirip dengan ousat belanja regional tetapi karena ukuran pusat belanja regional lebih besar banyak ditempati kios dan pemilihan barang dagangan. Seperti halnya pusat belanja regional, konfigurasi khusus merupakan mal dengan banyak tingkat.
5.      Pusat belanja gaya hidup
Merupakan rancangan tradisional luar ruangan dan bermacam-macam ritel. Pusat menawarkan kenyamanan berbelanja, keamanan, ragam penyewa yang banyak dan atmosfer kepuasan konsumen. Beberapa pusat perbelanjaan gaya hidup ini terdiri dari toko dan restoran, beberapa gedung bioskop dan hiburan sedangkan yang lainya masih ruko.
6.      Pusat mode atau pusat belanja khusus
Merupakan pusat belanja yang sebagian besar terdiri atas pakaian mahal, butik, toko souvenir dengan berbagai model pilihan atau pernik-pernik unik berkualitas tinggi dan bernilai.
7.      Pusat belanja outlet
Pusat belanja outlet adalah pusat perbelanjaan yang sebagian besar terdiri dari pemilik gerai dan pabrik yang menjual merek buatan mereka sendiri selain juga seharusnya mencakup ritel dengan harga diskon.
8.      Pusat belanja festival atau bertema
Merupakan pusat perbelanjaan khusus membuat penggabungan tema yang dibawa oleh toko perorangan dengan rancangan yang arsitektual. Daya tarik palig besar dari pusat perbelanjaan festival ini adalah sebagai tempat wisata secara khusus, pusat perbalanjaan ini terdiri dari penyewa yang mirip dengan pusat perbelanjaan khusus.
9.      Kios
Meskipun tidak satupun kios barang dagangan bisa ditemukan di semua jenis mal, kios tetap merupakan suatu alternative penempatan yang popular bagi ritel, untuk kebutuhan lingkup pasar yang kecil.
B.     Lokasi kota besar atau kota kecil
Walaupun pusat perbelanjaan berada di kota besar dan kota kecil, lokasi yang akan kami bahas juga direncanakan secara khusus, dengan banyak kepemilikan serta akses masuk dari jalan.
1.      District pusat bisnis (DPB)
Merupakan area tradisional yang ramai di kota besar atau kota kecil. Kegiatan bisnis ini mampu menarik banyak orang ke area tersebut selama berjam-jam, baik oang yang ber lalu lalang, atau yang bekerja di sekitar area itu.
2.      Lokasi dalam kota
Lokasi alternative lainya kota besar atau koota kecil adalah dalam kota. Dalam kota merupakan areal perkotaan dengan intensitas yang tinggi terdiri dari bangunan apartemen, populasi terbesar dengan teknik latin, negro, asia.
3.      Lokasi jalan utama
Merupakan tempat dimana DPB berada pada areal belanja tradisional dari kota kecil atau distric bisnis yang kedua di daerah pinggiran kota atau kota besar.
C.     Pemilihan lokasi lain untuk ritel
Mengambangkan kegunaan yaitu megombinasikan beberapa kegunaaan yang berbeda atau kompleks, seperti pusat perbelanjaan, dengan gedung perkantoran, hotel, perumahan, kompleks pejabat, dan pusat konvensi.
1.      Bandar udara (airport) bisa menjadi satu area yang penting dan popular di antara ritel-ritel nasional.
2.      Tempat peristirahatan (resort) ritel menganggap resort sebagai peluang pemilihan lokasi yang utama, sebab aka nada banyak yang pelanggan lakukan di saat waktu senggang mereka.
3.      Rumah sakit adalah alternative pilhan lokasi yang terus popular. Karena pasien dan para tamu pasti akan menyempatkan pergi ke toko.
4.      Toko di dalam toko adalah pilihan lain untuk ritel adalah di dalam toko yang lebih besar. Ritel bisa khusus berada di toserba.
Daftar Pustaka
Ma’ruf, Hendri. 2006. Pemasaran Ritel . JAKARTA: PT.Gramedia Utama
Whidya Utami, Christina .2010 . Manajemen Ritel Edisi II . JAKARTA:Salemba Empat
http://.Jurnal Ekonomi Bisnis.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Ekonomi Manajerial

Nama kelompok : 1.       Ahmad Zainul Arifin   ( 115100   ) 2.       Nadya El Madania       ( 115100   ) Diketahui ...